Mengenal Tradisi Indonesia Lewat Festval Budaya di Pendopo 45

banner 468x60

KAB.BOGOR, Kompas88News.com – Festival Budaya dan Pagelaran Wayang Kulit dihadiri oleh Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi, Kapolsek Kemang, Danramil, Camat Kemang dan warga sekitarnya. Bertempat di Bale Agung Gedung Pertemuan (Pendopo 45), Dimulai pada pukul 9.00 WIB sampai dengan selesai. Sabtu (28/06/2025).

Pihak Managenenet Pendopo 45 saat diwawancarai Media mengatakan bahwa, “Festival budaya tahun 2025 dulunya ini suatu tradisi dari pendopo 45 dan sudah ada belasan tahun yang lalu, kemudian kita sempat terhenti karena Covid. 4 tahun istirahat sekarang kita baru mulai lagi sekarang kita rubah namanya menjadi versi budaya dan judulnya adalah “Harmoni Merajut Budaya,” tutur Andy Purvis.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya, Andy menyampaikan, Kenapa kita sebut harmoni karena kita mencampur semua budaya. Tadi kita udah mulai dari jam 9 pagi mulai dari drum band, pecak silat dan tari-tarian dari anak-anak sekolah dari usia dini, SMA dan mahasiswa maupun dari sanggar seni yang berada di lingkungan kita. Kita kerjasama warga dengan konsep pasar rakyat.

“Tujuannya itu pertama kita meneruskan tradisi acara budaya dari pendopo 45, cuman tahun ini kita beruntung mendapat mitra dari Universitas Indraprasta, mereka ini memang csr nya itu adalah kesenian. Jadi dalangnya Milenial ada 2, yang satu umur 17 tahun dan yang kedua umur 20 tahun, mereka adalah cucu angkat dari Ki Anum Suroto,” ucap Ketua Panitia Festival Budaya Andy Purvis.

Untuk budaya jawanya ada seperti Pagelaran Wayang Kulit, Bahkan nanti jam 3 sampai jam 5 ada Reog, Barongsai, Pencak Silat dan pembukaannya tarian lengser sunda jadi semua campur. Ada UMKM nya juga kita berdayakan.

Andy menambahkan, Kebetulan kita memang punya kerjasama dengan UMKM Kabupaten Bogor dan semua teman-teman di sini. Salah satu tujuan dari Festival Budaya adalah menggerakkan nilai ekonomi, mereka boleh ikut di sini untuk menjual dagangan dan kita sama sekali tidak mengambil keuntungan, tambahnya.

“Saya berharap ini bisa menjadi suatu tradisi yang bisa di teruskan, pertama kita bisa mendapatkan peserta maupun penyuka budaya yang lebih muda, karena kita punya dalang milenial umur 17 dan 20 tahun. Kita harapkan bisa turun ke anak-anak dengan mencintai budaya,” tutup Andy.

 

Reporter : (Asm)

Editor : Red

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *